© wiwidbola Barcelona Menjelang Era Kegelapan

Barcelona Menjelang Era Kegelapan

Bukan, saya di sini bukan bicara hasil quick count Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4). Saking emosionalnya menyikapi hasil tersebut, beberapa teman di media sosial sampai bilang Jakarta sedang menjelang era kegelapan.

Yang saya maksud era kegelapan di sini adalah kejadian beberapa jam setelah hasil quick count Pilkada DKI muncul.

FC Barcelona akhirnya tersingkir dari Liga Champions setelah ditahan Juventus 0-0 pada leg II perempat final. Pada leg I, Barca kalah 0-3.

Inilah kemunduran terburuk yang dialami Barcelona sejak mereka mulai mendominasi sepak bola Eropa pada 2005-2006.

Untuk kali kedua secara beruntun, Blaugrana tersingkir di babak yang sama. Musim lalu, langkah mereka juga terhenti di 8 besar.

Pada 2006-2007 dan 2013-2014, Barcelona juga tergusur sebelum semifinal.

Tetapi, pada musim berikut Barcelona lantas bisa memperbaiki diri dengan mencapai babak yang lebih tinggi.

Ketidakmampuan Barcelona mencetak gol juga harus dicermati.

Untuk pertama kali sejak 2005-2006, Barcelona tiga kali tidak bisa menjebol gawang lawan dalam empat pertandingan fase knock-out di Liga Champions.

Sebelum kalah 0-3, dan 0-0 melawan Juve, Lionel Messi dkk juga sempat takluk 0-4 dari Paris SG di babak perdelapan final.

Semakin banyak lawan yang tahu cara menghentikan mesin gol Barcelona. Semakin banyak pula lawan yang tidak merasa takut duluan ketika berhadapan dengan trio MSN (Messi, Luis Suarez, dan Neymar).

Rasa takut itu tadinya merupakan modal bagus bagi Barcelona untuk menang setengah langkah bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Gaya permainan Barcelona sudah bisa ditangkal. Asumsi itu telah beredar dalam beberapa tahun terakhir.

Semakin lama semakin kelihatan bahwa Barcelona belum menemukan cara untuk mengatasi hilangnya dua maestro lini tengah yang menjadi jantung permainan mereka sejak 2005-2006.

Xavi Hernandez pensiun, kemudian diikuti Andres Iniesta yang jelas-jelas sudah melewati masa keemasan.

Barcelona tidak bisa memainkan tiki-taka tanpa dua orang tersebut.

Kalau masih ingin memakai tiki-taka, Barcelona belum menemukan pengganti Xavi dan Iniesta yang sepadan.

Kalaupun ingin meninggalkan tiki-taka, Barca juga belum menemukan pemain yang bisa memberikan identitas permainan yang baru.

Tanggungnya pendekatan permainan di lini tengah yang membuat Barcelona acap terlihat kepayahan, bahkan ketika bertemu tim-tim lemah macam Alaves atau Celta Vigo.

Terkadang, hanya kemampuan individual Messi dkk yang menyelamatkan Barcelona meraih hasil.

Masalah lain Barcelona pada akhirnya ikut terekspos, memberikan indikasi bahwa inilah momen tergawat Blaugrana.

Momen di mana mereka sudah menjelang era kegelapan.

Regenerasi tim terputus. Gerard Pique, Javier Mascherano, Luis Suarez, dan Iniesta masih menjadi andalan dengan usia sudah kepala tiga.

Messi pun akan segera menyusul. Namun, para calon pengganti belum tampil paten atau malah belum ditemukan.

Sementara kontribusi La Masia dalam menyumbangkan pemain ke tim utama juga merosot dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Hal itu juga indikasi mulai datangnya era kegelapan.

Bukan cuma fans Barcelona, era kegelapan itu juga akan melukai pencinta sepak bola secara umum.

Bagaimanapun, Barcelona adalah klub yang selama ini dikenal menjadi standar yang sangat tinggi di sepak bola.

Tidak akan menyenangkan melihat mereka mengalami kesulitan seperti itu, kecuali mungkin buat fans Real Madrid.

Yang harus dicatat, era kegelapan itu tak perlu benar-benar datang.

Barcelona punya tradisi dan sumber daya yang cukup untuk bangkit.

Barangkali langsung dimulai pada duel el clasico pada akhir pekan ini.

Kemenangan atas Madrid segera setelah tragedi di Liga Champions adalah stimulan yang paling ideal untuk mengakhiri musim ini sekaligus memulai musim depan dengan baik.

Sumber : Juara.net

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Samsung Luncurkan Galaxy Note10 Lite

Infobmr.com, TEKNO – Samsung dikabarkan akan meluncurkan seri Galaxy Note ...