Teknologi dan perangkap jaring laba-laba yang sedang kita nikmati

Oleh : Suaib Bolota

Dinamika pemuda, tantangan dan tanggung jawab kemanusiaan terhadap tumbuh kembang mental dan karakternya

Hari ini, setelah sekitar dua bulan lamanya, saya baru aktif lagi di media sosial dan mulai mengakses internet. Maya yang sebebas-bebasnya menyuguhkan wajah dan wujud manusia dalam bentuk kata-kata tulis, suara, maupun audio visual. Di sini saya menjelajah dunia manusia dengan hanya duduk saja sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok, batang demi batang dan tak terasa sudah beberapa bungkus isi 16 batang, rokok yang saya habiskan, tanpa sebijipun pemasukan yang saya peroleh selama itu, malahan saya melewatkan waktu ibadah saya.

Ada hasrat yang begitu bahana, hingga saya bisa bertahan untuk tidak tidur semalam suntuk. Utuh dan total. Bagai gairah dan desah napas ketika menjamah tubuh kekasih di malam percintaan pertama, saya terus menjelajah dunia maya, hanya untuk sekedar merasa bosan dengan satu hal yang sama dalam beberapa menit, untuk kemudian mencari alasan berpindah ke hal lain, yang juga pada akhirnya membuat saya bosan lagi.

Ada banyak sekali suguhan yang dapat saya jamah. Mulai dari ancam-mengancam atas nama keyakinan dan agama, antar keyakinan, hingga berbagai soal yang timbul di antara sesama penganut sekte-sekte tertentu. Dilanjutkan dengan berbagai hal mengenai dualisme, ekalisme, trilisme, dasalisme dan entah angka berapa lagi yang harus di-sansekerta-kan untuk menggambarkan betapa mudahnya keyakinan ‘saya benar dan anda salah’ memecah ikatan antar sesama manusia.

Belum lagi berita pemerkosaan yang dilakukan bergerombol, sejarah-sejarah politik yang tidak luput dari permainan tangan-tangan kotor dan para diktator, perang dan bunuh-bunuhan karena persoalan sepeleh, urusan hina-menghina dan saling membela antar kawan dan lawan, kisah cinta anak muda yang berbuntut kegalauan, adegan-adegan lucu mengenai kebiadaban dan ketidak-berperikemanusia-an dan begitu asik ditertawakan, kajian-kajian kitab suci yang justru menjadi menakutkan, narasi-narasi ekonomi yang tidak luput dari penindasan dan penguasan manusia kepada manusia lain, berita-berita bohong yang membuat semua orang mudah untuk saling memaki dan mengutuk sesamanya, kebakaran, hutan gundul, gunung meletus, gempa bumi, gelombang tsunami, pemanasan global dan mencairnya es di kutub utara, puting beliung, dan… Aaaaargh. Saya ingin teriak karena terlalu muak dan ngeri melihat begitu banyaknya kerusakan, dan saya, tidak menyangka, ini ada di atas tanah, yang hakikinya manusia sebagai pemegang-peranan penting dan bertangung jawab sepenuhnya atas semua itu.

Tak ada sesuatu pun detail dari semua peristiwa itu yang mampu saya ingat, kecuali rasa bosan, muak dan marah yang tiba-tiba menjejali jiwa dan pikiran saya, juga berbagai pikiran dan persepsi negatif yang meradang di benak saya, hingga seolah saya mau lari saja dari dunia yang (saya rasa) demikian rusak ini.

Mungkin anda akan beranggapan bahwa saya terlalu sibuk untuk memperhatikan berbagai hal negatif yang telah saya sebutkan tadi. Tetapi cobalah anda mulai untuk memperhatikan bagaimana yang anda lihat, dengar dan sentuh itu, bekerja mempengaruhi jiwa anda. Mungkin tidak akan se-persis apa yang saya rasakan, tetapi silakan anda buktikan dengan melepas belenggu data dan akses jaringan internet sebentar saja. Letakkan ponsel cerdas yang bersistem android atau OS itu untuk sejenak, dan jangan mencoba untuk mengikuti bujukan yang datang dari keinginan anda untuk menyentuh dan hanyut lagi di dunia maya itu.

Saya sudah mencoba untuk membangun hubungan komunikasi dengan teman-teman yang jauh, dengan keluarga, berdiskusi dengan kelompok dan komunitas saya mengenai keilmuan, melihat berbagai macam komedi, mendengar lagu-lagu yang berkualitas lebih dari sekedar bermelow-melow dan merengek-rengek itu, melihat menonton ceramah-ceramah para kiyai yang ‘ma’refatullah’, dan masih banyak lagi yang saya sangkakan cukup positif untuk menangkal dampak yang timbul dari apa yang saya sebutkan sebelum ini, tetapi saya menemu sia-sia di akhir jalan pejelajahan saya itu.

Semua hal yang saya anggap positif itu hanyalah sepenggal ‘Tai Kuku’ yang sama sekali tidak mampu untuk membuat saya bergeming dari persepsi negatif mengenai kehidupan manusia di dunia modern yang ditunjang teknologi canggih ini. Yang tak bisa menenangkan ‘rasa ingin lari’ saya dari dunia ini.

Saya hanya dapat menyimpulkan secara subjektif dengan bercermin dari bagaimana emosi saya, bermain dan dipermainkan oleh canggihnya jejaring internet yang disuguhkan era Cybernetic ini. Sebagai kaum muda, saya merasa bahwa apa yang saya alami, adalah persis dengan apa yag tengah dialami oleh generasi muda zaman ini.

Lalu saya bertanya-tanya, mewakili kaum muda pengemban jiwa para pencari kepastian dan akal yang haus akan pengetahuan ini, adakah jalan yang bisa ditempuh, yang mungkin lebih lembut, selain cara yang lebih ekstrem dalam meminimalisir terpaan gelombang teknologi jejaring internet yang kian kuat dan sakti ini?

Saya membayangkan sebuah kerja keras yang hamper mustahil untuk dilakukan seorang manusia biasa, selain Nabi dan Malaikat. Pekerjaan itu adalah mengawal dan mengawasi setiap gerak kaum muda dan mudi, juga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang dengan sengaja memanfaatkan kondisi ini dalam rangka menambah rusaknya mental dan karakter anak-anak muda era cybernetic ini, sementara di sisi lain, perkembangan teknologi yang justeru meningkatkan intensitas dan kualitas privat dalam sistem kerjanya.

Hal berat lain yang juga hamper mustahil bagi generasi tua hari ini, adalah memulai pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi ini, agar mampu memahami cara kerja cyber yang sedang marak menggempur mental dan karakter generasi muda kita hari ini. Sebagai generasi tua, kita mungkin sudah bisa membayangkan bagaimana beratnya tanggung jawab yang kita emban ini.

Bahkan bagi pihak-pihak di lembaga Negara secara regional maupun internasinal, andaikan mereka masih peduli dengan nasib kaum muda hari ini, perihal dampak-dampak negatif yang tak bisa ditangani di tingkatan kaum muda ini sendiri, juga akan mejadi berat, bahkan saya bisa menambahkan, BERAT SEKALI. Sekali lagi, andai mereka peduli dengan pekembangan mental kaum muda yang sangat dipengaruhi oleh kecanggihan teknologi ini.

*Penulis adalah Salah satu pendiri Oganisasi  Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Kaidipang Perubahan (KMIKP)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Update Corona di Indonesia 8 April 2020 : 2.956 Positif, 222 Sembuh, 240 Meninggal Dunia

Infobmr.com, JAKARTA – Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan ...