Para Perempuan Teladan

Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.
Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Fir’aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.
Asiyah binti Muzahim adalah isteri Fir’aun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Fir’aun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.
Menjadi isteri Fir’aun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Fir’aun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Fir’aun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Fir’aun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)
Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.
Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)
Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.
Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)
Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, “Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, “Allâhussalam waminhum salam wa ‘alaikassalam wa ilaihi ya’udussalam wa ‘ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)
Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116)
Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)
Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.
Data buku:
Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit
Penulis: Ririn Astutiningrum
Penerbit: Mizania
Cetakan: I, 2016
Tebal: 274 halaman
ISBN: 978-602-418-035-5
Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Sumber : NU Online

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Samsung Luncurkan Galaxy Note10 Lite

Infobmr.com, TEKNO – Samsung dikabarkan akan meluncurkan seri Galaxy Note ...