Susanto Polamolo, SH, MH

Dia Yang Dirindukan Dan Melekat Dalam Ingatan

Oleh : Susanto Polamolo, SH, MH
(Peneliti HAM & Akademisi HTN)

Suatu ketika, Opo’ dan beberapa kawan pengemudi bentor, pedagang pasar, dan nelayan, berbincang hangat ihwal kondisi ekonomi mereka.

Hamito’, kodoni jualang ngimu ko pasaru iito? Mo mo lanjaru iito?” Opo’ membuka percakapan. “Yah, sekarangini lebe huo mo tombo noh. Kadang, ku mo sambu maiy numa mo hui ko modalo, diobo ko untungia,” jawab Hamito setengah menggerutu. Apano yang sehari-hari sebagai pengemudi bentor tak mau ketinggalan melempar keluhan yang sama, “kaito noh, kania kumo sikisa keadaan skarangini, numa mo hui ko modal.”

Bo kania kitandolu numa mongailo yiini kasih. Kadang du jaga sabotase yii dondolu sokongo harga. Kindondolu mongingi may harga ku mo mura, mo desako yito kodondolu moposali beda harga nia,” Om Tain yang seorang nelayan ikut menimpali.

Mendengar keluh kesah kawan-kawannya itu, Opo’ menghela nafas panjang. Dalam hati ia membatin, “Ya Allah, kidondolupa du kedeini kupuria, kodoniru ito kidondolu ku numa. Mo karija bedengo hasilia dio so ngonu, ko igo igoha nia du posali yiidondolu bedengi dondolu…”

Dengan nada kesal Opo’ menohok: “memango skarangiini putarangia doi numa ayi kedondolu sokongo ko lolugi yiini, numa ki dondoluru mako agu ke dondolu ku aiy mo guruso sokongo proyek-proyek dukallinii ee.?, mo desako hasilia dio po balanja iidondolu keini, kaini puratangia doi keyini mo palango skali, apalagi kania kitanda sokongo kalangan masyarakato iisiki kini, kania kitandolu iini ee. Oo kama ee?”

Koodonga pamarenda skarangiini dio mo sriuso mo ba perhatikan ke tandolu masyarakat iini, dio pusingo ii dondolu keadaango du kedeiini iini noh. Dio kania pamarendah sebelum nia may, kira-kira kodoni ke yo tolu, Oo to?” Mendengar pertanyaan Opo’, kawan-kawannya serentak menjawab dengan antusias: “Oo totu iito Po’. Kitanda du noko rasa kedito. Totu kenimu…”

***

Pada galibnya, dihadapan perubahan sosial yang begitu cepat, orang-orang tak dapat menampik suatu pertalian anakronisme: etos kepemimpinan yang bergeser, tuntutan ekonomi yang menggila, serta politik partikularisme—ala Machiavellian—yang menjadi tren.

Perbincangan Opo’ dan kawan-kawannya, menunjukkan persis bagaimana sebetulnya situasi konkrit sebagian besar masyarakat level bawah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Bonus demografi, potensi sektor pariwisata, agriculture, peternakan, perdagangan, dan industri pertambangan/energi di wilayah ini: kelihatannya belum tergarap maksimal, terlebih tahun-tahun belakangan ini.

Jika angka dapat dipinjam di sini, gerak pertumbuhan ekonomi kelihatan tidak berbanding lurus dengan APBD. Tahun 2011 hingga 2013 pertumbuhan ekonomi signifikan meningkat, lalu menukik drastis hingga 2016, sementara APBD sejak 2014 mengalami defisit hingga 2016. bertemali itu dengan angka kemiskinan yang tadinya berhasil ditekan tahun 2011-2013, meningkat sejak 2014 hingga 2016.

Barangkali angka-angka dapat mengecoh, atau tak cukup mewakili. Kita maklumi saja soal itu. Tetapi, ada yang harus diakui di sini, kita tahu ada “ingatan”, sesuatu yang sulit menampiknya.

Perbincangan Opo’ dan kawan-kawan yang senasib adalah perbincangan tentang “ingatan”, bahkan perbincangan itu di dalamnya terbesit pula tentang “kerinduan”, ada sosok pemimpin yang dirindukan, yang melekat dalam ingatan.

Perbincangan itu kelihatannya mengarah pada satu sosok pemimpin, pemerintahan sebelumnya.Sosok yang dikenal dengan sapaan akrab “Papa Akbar”, Hamdan Datunsolang, Bupati Bolaang Mongondow Utara Pertama (2008-2013) terhitung sejak Kabupaten ini dimekarkan 2007 silam.

“Ingatan” dan “kerinduan” masyarakat kelas bawah, serta sejumlah tokoh agama, dan adat beberapa tahun terakhiryang barangkali melecut naluri kepemimpinan seorang Hamdan Datunsolang untuk kembali ke arena pertarungan Pilkada 2018 nanti.

Tentu saja, keputusan tersebut harus apresiasi sebagai keputusan politik yang tepat waktu. Mengingat sejumlah persoalan pembangunan di Bolmut yang kian kemari membutuhkan lebih dari sekadar konsep pembangunan, tetapi juga butuh sinergitas semua elit lokal. Menenun semua ini memang butuh sosok, ia yang mampu memperjumpakan etos kepemimpinan, menghantam pemiskinan struktural, dan merekatkan heterogenitas masyarakat Bolaang Mongondow Utara.

Dahulu, Hamdan pernah teruji. Nanti, ia harus membuktikannya lagi.*

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Ryze Tech Luncurkan Drone Seharga Satu Jutaan

Infobmr.com, TEKNO – Persaingan drone kini semakin ketat, startup asal ...