Andi Ryza Fardiansyah
Andi Ryza Fardiansyah, SH [Ketua Ombudsmen Media InfoBMR]

Devide Et Impera; Barang Basi Dalam Kemasan Yang Baru

Oleh : Andi Ryza Fardiansyah, SH

Dari dulu saya selalu bertanya dalam hati, apa betul negara ini pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun? Dijajah oleh negara yang luas wilayahnya bahkan hanya sebesar 1/4 (sudah termasuk dengan wilayah perairannya) dari pulau Sulawesi? 1 pulau diantara 13.446 pulau yang ada di Indonesia. Dijajah oleh negara yang jumlah penduduknya hanya sebanyak 16.940.200 jiwa (sekitar 0,232% dari total populasi dunia), sedangkan negara ini adalah negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia (sebanyak 255.461.700 jiwa atau sekitar 3,5% dari total populasi dunia). Padahal seorang Jet Li pun di kehidupan nyata berfikir dua kali untuk berkelahi dengan ratusan orang di Mal Sarinah, kecuali dia membawa bom bunuh teman… eh, bunuh diri.

Apakah dulu orang-orang Indonesia tidak mengenal istilah keroyokan? Padahal saat ini istilah tersebut lagi ngetren di kalangan geng motor, begal dan anak-anak @L4Y. Karena sewaktu Belanda datang untuk menjajah Indonesia, Belanda juga tidak mungkin datang dengan membawa seluruh penduduknya (kalau ikut semua, bukan menjajah namanya tapi migrasi). Karena itu, saya masih sangsi dengan sejarah bahwa jutaan penduduk Indonesia pernah dipaksa kerja rodi oleh puluhan orang bule yang bahkan bahasanya pun susah diucapkan. Belum lagi budaya Indonesia yang terkenal dengan mistis berbagai tipe yang sampai hari ini masih subur di setiap ikatan adat istiadat. Pastinya, Belanda akan berfikir ulang untuk menjajah bangsa ini apabila seandainya dulu orang Indonesia bisa mengkombinasikan teknik keroyokan dengan mistis. Jujur saja itu kombinasi paling mengerikan yang pernah ada, seperti kita yang tiba-tiba dikeroyok oleh preman pengendali tanah, air, angin dan udara (yang dipimpin oleh avatar).

Tanpa menyangsikan upaya yang telah dilakukan oleh para pejuang untuk memerdekakan negara ini – (Terima kasih dan salam hormat kepada kalian para Pahlawan Yang Terhormat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan tempatnya yang terbaik bagi kalian di sisi-Nya) – yang sampai hari ini pun kita hanya sebatas memasang foto-foto mereka di ruang-ruang kelas sekolah. Menjadikan makamnya sebagai tempat pacaran dan segala aktivitas maksiat. Serta membiarkannya makan sebungkus nasi uduk di pinggir trotoar jalan dengan seragam lengkap sebagai “orang yang terlupakan”. Bangsa ini seharusnya bisa besar dengan segala potensi yang dimilikinya. Sejarah penjajahan yang sangat lama dengan fakta-fakta kekayaan serta kebesaran bangsa ini, bagaimanapun masih menjadi dua terminologi yang menciptakan disonansi kognitif di setiap akal orang-orang yang mau berfikir. Karena saya pun masih tidak menerima fakta bahwa kita pernah dijajah dengan segala potensi dan kebesaran yang kita miliki.

Seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan yang terlupakan oleh bangsa ini

Seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan yang terlupakan oleh bangsa ini

Saya tidak menulis tulisan ini untuk membahas siapa yang salah. Karena kalaupun saya bertanya siapakah yang patut untuk disalahkan, maka “mereka” tetap saja akan mengatakan bahwa “ini salah Jokowi!!!”. Namun, setidaknya tuisan ini bisa jadi medium untuk menumpahkan hasil perkelahian antara dua hal yang menjadi disonan di pahamanku.

Ketika membaca ulang sejarah penjajahan bangsa ini, saya terkejut dan berhenti di sebuah kata yang tidak asing sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar sembari menikmat celotehan tentang “Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa” (PSPB). Saya kembali tersentak pada kata “devide et impera“. Seolah kata-kata tersebut merupakan kata-kata baru yang menyentuh akal dan menggelitik kesadaran. Sebuah fenomena bahwa orang-orang bule yang berbicara dengan tenggorokan tersebut telah berhasil mengendalikan kita selama 350 tahun dengan sebuah strategi politik pecah belah.

Fakta Sosio-Historis bahwa Indonesia adalah negara yang tegak diatas fondasi heterogenitas, memang menjadi sasaran empuk bagi strategi yang pertama kali diterapkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC (Bacanya harus pakai suara tenggorokan) di Indonesia sejak abad ke -17 ini. Strategi ini adalah strategi yang memang sangat memanfaatkan perbedaan. Mengadu domba dengan propaganda-propaganda identitas parsial yang kemudian ditransformasikan menjadi doktrin ego sektarian.

Inilah kelemahan besar bangsa ini, karena ini satu-satunya alasan mengapa kombinasi antara keroyokan dengan teknik pengendalian elemen ala avatar gagal dipraktekkan selama lebih dari 350 tahun. Seolah bangsa ini tertidur dan baru terbangun kembali ketika 326 tahun setelah VOC mendirikan kantor pertamanya di Batavia, Para Pemuda dari seluruh nusantara bersumpah atas nama persatuan Indonesia. Sumpah monumental yang seharusnya menjadi identitas pemersatu. Bahwa saya, kamu, kami, kalian, mereka dan kita semua adalah bangsa yang tinggal di tanah dan berbahasa yang sama. Bangsa, Tanah Air dan Bahasa Indonesia!!!

Teks Asli Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Teks Asli Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Devide Et Impera Kemasan Baru, Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Saya pun selalu berharap bahwa “devide et impera” cukup hanya menjadi pemanis cerita dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Namun sayangnya, itu masih sebatas harapan sampai hari ini. Sebuah masa dimana usia kemerdekaan bangsa ini telah menginjak tahunnya yang ke-70. Faktanya, bangsa ini masih terlalu mudah untuk di adu kambing (karena domba sudah terlalu mahal untuk di adu). Bangsa ini masih senang untuk meluangkan waktunya demi saling menghujat dan memaki hanya karena ego parsial yang dibungkus doktrin celana cingkrang. Masih bahagia melihat orang lain kelaparan hanya karena perbedaan penafsiran siapa yang seharusnya masuk surga. Kakinya masih nikmat menginjak-injak harga diri saudara sebangsanya yang berbeda pada jawaban pertanyaan apakah Jokowi atau Prabowo yang pantas untuk menjadi Presiden di Negeri ini.

Bangsa ini masih senang untuk menjadi corong-corong propaganda asing. Masih senang menjadi kambing-kambing yang siap untuk diadu demi kucuran valuta asing. Padahal perkelahian kita sengaja diciptakan untuk menarik perhatian kita semua, sehingga kita tidak sadar bahwa tanah, bumi dan kekayaan alam kita sementara dikeruk oleh mereka yang bahkan menderita di negaranya karena matahari yang malas terbenam.

Maukah kita sekedar meluangkan waktu untuk bertanya minimal kepada diri kita sendiri. Apa kira-kira yang naruni kita akan katakan tentang kemanusiaan? Adakah nurani kita berkata bahwa kita adalah pemilik surga? Adakah Nurani kita berkata bahwa kita adalah yang paling benar? Seperti pemikiran sofisme yang mengembalikan tolak ukur kebenaran pada masing-masing individu.

Lalu ketika nurani kita ternyata masih iba melihat orang yang kelaparan di pinggir jalan, masih sedih melihat mereka yang tergusur, lalu siapakah yang sebenarnya melakukan pembakaran-pembakaran rumah ibadah? Siapakah yang sebenarnya saling menghujat untuk berebut kavling tanah di surga? Siapakah yang sebenarnya saling membunuh dan menumpahkan darah hanya karena berbeda siapa yang akan datang di akhir zaman? Siapakah yang sebenarnya saling membenci hanya karena perbedaan kelompok majelis taklim, perbedaan seragam, perbedaan kelompok arisan, perbedaan warna kulit, tempat lahir, tanggal lahir, ukuran sepatu, nama marga atau perbedaan pendapat tentang siapa yang pantas menjadi hokage terakhir? Apakah Uchiha Sasuke atau Uzumaki Naruto?

Nurani kita bukan tempat untuk perbedaan dan perdebatan seperti itu. Sesungguhnya inilah devide et impera kemasan baru. Hegemoni import yang berhasil memecah belah kita dengan memanfaatkan hasrat berkuasa yang masih tumbuh subur pada diri kita yang rakus dan kanibal. Yang masih rela untuk memakan tubuh saudaranya sendiri. Yang kenyang dari laparnya manusia-manusia di sekitarnya. Politik ini masih subur dalam kemasannya yang baru. Lebih halus dengan tidak lagi menggunakan pertarungan fisik, melainkan pertarungan pandangan dunia yang bahkan sampai hadir pada diskusi-diskusi non formal di warung kopi atau terselip di topik-topik majelis taklim yang lagi promosi panci merk terbaru dan dispenser model terbaru.

Devide et impera adalah hegemoni yang sudah sangat akrab dengan alam bawah sadar bangsa ini. Strategi ini telah bersarang seperti parasit yang telah menggantung lama sehingga sulit terbedakan antara dirinya dengan inangnya. Bahkan sudah dianggap lumrah dan wajar, seperti wajarnya memperbincagkan tentang konflik rumah tangga seseorang ketika ibu-ibu majelis taklim selesai membaca surah Yasin. Kewajaran yang kemudian menghilangkan tanggal kadaluarsa pada kemasan baru devide et impera.

Pernakah kalian bertanya pada kambing apa alasan mereka sehingga ingin di adu? Apakah pertanyaan ini konyol? Ya, memang konyol. Karena, jangankan untuk menyampaikan alasan, berfikir untuk mencari alasan pun kambing tidak mampu. Karena itu, merupakan sebuah kekonyolan terbesar abad ini ketika ada seseorang yang berusaha mencari jawaban mengapa kambing ingin di adu, sedangkan dia tahu bahwa kambing bahkan tidak bisa berfikir untuk memberikan jawabannya. Namun, sekonyol-konyolnya kambing yang tidak bisa berfikir, tetap saja yang lebih konyol adalah manusia yang seharusnya bisa berfikir tapi masih bisa di adu. Maka sudah sepatutnya apabila manusia menggunakan akalnya untuk menciptakan kehidupan yang lebih beradab, karena kambing tidak pernah berdiskusi dengan sesamanya sekedar untuk membicarakan bagaimana nasib bangsa mereka kedepannya.

Indonesia dan Potensinya Sebagai Sentrum Peradaban Dunia

Politik “devide et impera” sebenarnya hanya merupakan strategi usang yang coba diproduksi kembali. Ini seperti produk basi yang dikemas dengan kemasan yang lebih baru dan lebih menarik. Berhasil, karena masyarakat ini mayoritas masih empiris. Masih lebih mengedepankan citra daripada segala-galanya. Lebih baik kalah nasi, daripada kalah aksi. Lebih gengsi beli peniti di minimarket daripada di pasar tradisional.

Namun sadarkah kita bahwa “devide et impera” adalah strategi untuk mematikan Indonesia? Bahwa strategi ini adalah taktik perang untuk melemahkan Indonesia sebagai negara dengan potensi paling besar di dunia. Faktanya, berdasarkan data statistik yang dirilis oleh BPS, di tahun 2016, Indonesia memiliki sekitar 70 juta penduduk yang berusia 0-14 tahun. Artinya, Indonesia memiliki sekitar 70 juta sumber daya manusia yang kemudian akan mencapai puncak usia produktif dimulai dari 26 tahun yang akan datang (2042), yaitu pemuda yang berusia 14 tahun di tahun 2016, akan berusia 40 tahun di tahun 2042. Jikalau 70 juta potensi tersebut dimaksimalkan pembangunan sumber daya manusianya, maka di tahun 2026, Indonesia akan memiliki sekitar 70 Juta orang cerdas. Cukup banyak untuk menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara maju. Jumlah itu lebih banyak dari jumlah penduduk Belanda, Britania Raya, Perancis, Italia dan Swiss di tahun 2016.

Ini adalah fakta yang bagus sekaligus mengerikan. Bagus sebagai semangat untuk mencerdaskan bangsa dan memaksimalkan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia demi mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara maju, sekaligus mengerikan bagi negara-negara dunia pertama yang masih mengeruk keuntungan sumber daya alam Indonesia karena bisa membuat penghasilan mereka berkurang.

Apalagi jika potensi sumber daya manusia ini bersatu dalam kerangka nasionalisme. Indonesia akan memliki 70 juta orang cerdas yang nasionalis. Dapatkah anda bayangkan seberapa kuatnya bangsa ini? Ini lebih dari cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai sentrum peradaban dunia. 70 Juta orang cerdas yang akan memimpin semua bidang keilmuan mulai dari sains, teknologi, sosial, ekonomi, hukum, budaya, agama dan lain-lain. Ya, Indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia. Sebuah potensi yang sangat ditakuti oleh negara-negara di dunia karena Indonesia punya semua hal ketika itu terwujud. Indonesia akan menjadi negara yang sempurna.

Saya mengajak anda semua untuk meluangkan sedikit waktu berimajinasi dengan fakta-fakta ini. Sedikit meluangkan waktu untuk menaikkan level data-data ini dari sekedar deskripsi statistik ke arah yang lebih hidup. Karena setiap potensi masih mungkin teraktual ketika syarat-syaratnya terpenuhi. Ini tidak seperti membayangkan segitiga bersisi empat.

Saat ini, kita mungkin bisa saja menganggap bahwa hal tersebut masih terlalu jauh. Masih 26 tahun lagi dan kita masih bisa tidur berbantalkan apatisme dan skeptisisme sembari berharap semua akan terwujud ketika kita terbangun nanti. Namun sebelum kita terlelap, meri periksa kembali dompet kita, lihat dengan seksama KTP kita masing-masing. Siapakah yang Indonesia? apakah kita masih menjadi Indonesia? KTP saya, anda, dia, mereka dan kalian bisa saja berbeda. Beda No. NIK, nama, tempat dan tanggal Lahir, alamat, pekerjaan, jenis kelamin dan masa berlaku. Tapi sadarkah kita bahwa perbedaan-perbedaan itu masih bisa dilebur dalam sebuah identitas yang sama. Dileburkan pada satu fakta bahwa data-data tersebut masih sah untuk disebut sebagai warga negara Indonesia. Karena Indonesia sesungguhnya adalah terminologi yang mempersatukan kita lebih dari perbedaan-perbedaan identitas kita yang sangat persial. Maka dari itu, sungguh sangat disayangkan apabila kita menutup mata terhadap sesuatu yang sangat berharga ini. Bahwa kita bisa menjadi bangsa yang besar apabila kita menanggalkan segala perbedaan dan bergerak untuk bertemu pada satu titik yang mempertemukan kita semua, “I N D O N E S I A”.

Devide et impera, sebagai strategi untuk memecah belah bangsa ini sesungguhnya tidak akan pernah berhasil apabila kita sadar bahwa kita dipertemukan dalam satu kesadaran ke-Indonesiaan. Namun, sekali lagi, praktek itu tetap akan bisa hidup selama kita masih melihat suku, agama, ras, adat, budaya dan semua fakta-fakta heterogenitas yang lain sebagai sebuah perbedaan yang harus diperdebatkan, bukan sebagai identitas yang karenanya kita bisa saling mengenal. Sangat disayangkan karena perbedaan-perbedaan tersebut sesungguhnya bukan sebuah substansi dasar untuk diperlawankan sehingga kita harus menjadi kambing-kambing yang siap di adu. Bukan sebuah hal yang harus dipertentangkan sehingga kita terlena dengan rayuan devide et impera. Karena strategi usang ini sudah sepantasnya untuk dipensiunkan sebagai peninggalan sejarah.

Kalau kita mau sedikit melihat heterogenitas Indonesia dari sudut yang berbeda, kita akan menemukan bahwa fakta heterogenitas agama, budaya, suku, adat istiadat di Indonesia adalah sebuah anugerah Tuhan kepada bangsa ini. Anugerah yang bisa menjadikan Indonesia sebagai guru bagi negara-negara lain. Guru yang akan mengajarkan kepada dunia bagaimana toleransi dapat hidup dalam sebuah konteks masyarakat heterogen. Dimana semua perbedaan melebur menjadi satu dalam bingkai nasionalisme.

Sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa yang besar. Sesungguhnya pula bangsa yang besar butuh pada sebuah pemikiran besar. Sebuah pemikiran yang kemudian bisa mengangkat derajat bangsa ini ke puncak peradaban dunia. Puncak dimana setiap orang bisa menghargai perbedaan sebagai sebuah harmoni penciptaan. Menjadikannya sebuah prinsip dasar untuk saling mengenal, bukan sebagai alasan untuk menciptakan peperangan dan pertumpahan darah. Menghargai sesama dengan tidak menyamakan yang beda dan tidak membedakan yang sama. Sebagai sebuah pandangan dunia yang akan menghentikan semua bentuk pemikiran yang merupakan wajah-wajah baru “devide et impera“.

Mari bangun, cuci muka, buka mata dan lihat disekitar. Maka kau akan menemukan harmoni dari setiap perbedaan. Bukankah itu adalah sesuatu yang indah? Seindah cahaya putih yang tersusun dari tujuh cahaya yang berbeda. Karena sampai hari ini, Bhinneka Tunggal Ika masih tertulis indah di genggaman sang garuda.

Satu Komentar

  1. artikel yang bagus, hanya saja dibumbui kenarsisan dan kehausan akan sebuah eksistensi yang menjijikan serta pengkambing hitaman pihak asing, seolah olah ini semua adalah salah Asing, titik.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Ryze Tech Luncurkan Drone Seharga Satu Jutaan

Infobmr.com, TEKNO – Persaingan drone kini semakin ketat, startup asal ...