Bolaang Mongondow Ada Conch, Akan Seperti Papua Ada Freeport

Oleh : Fendi Tulusa

Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini, rasa gelisah selalu menyapa pikiran dan jiwaku, rasa itu datang tanpa sopan santun dan menyerangku secara tiba-tiba dikala aku lagi bersemedi dengan waktu” (Fendi Tulusa)

Saya memang bukan seorang penulis tapi ingin mencoba untuk meminta kepada akalku agar dapat menumpahkan kegelisahan yang sekarang ini mendera alam pikirku. Kebetulan hari itu ada acara pemuda  Pogugutat (bahasa Bolaang Mongondow), maklumlah karena masih tergolong muda dan teman hidup saya berdarah Bolaang Mongondow dan dengan alasan pergaulan maka nama saya terdaftar sebagai anggota dalam komunitas tersebut.

Saat itu Jumat sore diacara itu, saya mendadak ingin minum kopi, maklum tidak biasanya minum kopi diwaktu siang, kebetulan diatas meja berdiri tegak setermos kopi yang masih mengeluarkan asap panas,ahh,,,pas skali…kutumpahkan kedalam gelas yang berwarna bening sampai pada bibir gelas. Sesekali kuseduh dengan pelan karena panas, sambil membuka Facebook untuk memantau indonesia lewat dunia maya, maklum sekarang zaman kacau menurut Haidar Baqir, media sosial adalah candu,hehehe.

Kuseduh kopi yang ada didepanku, ahhh… rasanya merasuk keotak kiriku, ehh..tiba-tiba memori masa-masa mahasiswa sebagai seorang yang sempat nyantri disalah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia seolah. Saya memikul beban moral yang sangat besar terhadap kondisi daerah ditempat hidupku sekarang. Teringat petuah dari seniorku, “Fen…berorganisasi itu bukan sekarang engkau dapat manfaatnya, tapi di Masyarakatlah kamu akan diuji dan membuktikan idealismemu yang sebenarnya”, petuah ini yang tidak pernah kulupakan sampai saat ini. Saya sih..baru 2 tahun tinggal dan menetap didaerah ini (Bolaang Mongondow), memang tanahnya subur dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa salah satunya emas. Daerah ini merupakan penyumbang beras terbesar untuk wilayah Sulawesi Utara sehingga dikenal dengan istilah daerah pasir putih (istilah disini untuk beras), maklum lokasi persawahan masih sangat luas. Tapi sayang sampai saat ini, mimpi ingin menjadi daerah mandiri, sejahtera dan berdaya saing masih jauh dari kata terwujud, tau kenapa?, Karena itu hanya jargon politik yang  meninabobokan masyarakatnya lewat iming-iming Provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR) dan laku dijual setiap ada hajatan politik.

Aduhh,,tiba-tiba pikiranku mengarah pada ulah nakal yang dilakukan oleh salah satu perusahaan asing BUMN Cina yang beroperasi di wilayah Ibu Kota Kabupaten tempat tinggalku yaitu Kecamatan Lolak. Memang akhir-akhir ini beritanya sudah menjadi viral secara nasional dikarenakan Bupatinya ditersangkakan oleh Polda Sulawesi Utara, katanya si Bupati memerintahkan aparatnya (Satpol PP) untuk melakukan pengrusakan terhadap bangunan liar tanpa izin (IMB) milik perusahaan mata sipit (Cina) yang berdiri kokoh di Jalan Trans Sulawesi ( Makassar – Manado ) tersebut. Konon katanya perusahaan ini sudah mengantongi izin cukup lama dari Tahun 90-an (kalau tidak salah), tapi karena dinamika politik saat itu maka aktivitas perusahaannya tidak berlanjut, menurut senior saya (tim kuasa hukum pemda) surat-suratnya yang digunakan masih yang lama berarti sudah tidak berlaku lagi alias kadarluwarsa, kalau dianalogikan ibarat motor BPKB nya sudah mati dan harus diurus kembali agar motornya tidak dianggap ilegal.

Kembali kuseduh kopi yang panasnya mulai turun dan pahitnya mulai terasa,

Mmm,,,Saya memiliki analisis yang berbeda dengan saudara-saudara saya yang ada di Bolaang Mongondow terkait perusahaan semen raksasa cina ini, terlepas dari kasus yang dihadapi oleh pemerintah Bolaang Mongondow. Menurut saya kalau perusahaan ini dibiarkan beroperasi maka Bumi Totabuan ini nasibnya akan seperti Papua karena ulah Freeport. Ingaat..!!! Freeport di Papua limbahnya ditampung di pegunungan Gresbeg dengan diameter 2 km dan kedalaman 200 m (sumber: data Walhi 1996)  dan sempat bocor menghantam pemukiman suku Amugme serta menghancurkan peradaban yang ada disana, akibatnya perlawanan yang terus dilakukan oleh suku Amugme terhadap Freeport dianggap sebagai gerakan separatis atau biasa disebut Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) dijaman Soeharto dan sekarang bermetamorfosis menjadi Organisasi Papua Merdeka (OPM), saya yakin dan percaya di Bolaang Mongondow tidak akan ada seperti gerakan tersebut. Ataukah kita masyarakat Bolaang Mongondow akan senasib dengan masyarakat Buyat di tahun 90 an tidak lagi mengkonsumsi ikan karena teluk Buyat tercemar mercuri akibat limbah yang dibuang oleh perusahaan Minahasa Newmont dengan dalih kebocoran pipa buangan limbah.

 Ahh…memang alasan yang tidak masuk akal selalu dilakukan oleh korporasi. Pertanyaannya kalau Perusahaan Conch itu tetap beroperasi maka limbahnya itu akan dibuang kemana??

Kembali kepersoalan Conch di Bolaang Mongondow, langkah tegas pemerintah patut diancungi jempol untuk menolak perusahaan asing yang masuk diwilayah Bolaang Mongondow tanpa dokumen izin, sehingg berkahir dengan si Bupati yang menjadi tersangka.

Ahhh…kopinya tambah nikmat dan sudah hampir didasar gelas,

Kulanjutkan kegelisahanku ini,, dimana-mana perusahaan asing di Indonesia selalu menimbulkan persoalan ditengah-tengah masyarakat. Kalau perusahaan ini lolos untuk melakukan eksploitasi dengan melakukan pengeboran yang berjumlah ratusan titik diwilayah kecamatan Lolak dengan kedalaman tidak ditentukan serta waktu beroperasinya akan terus diperpanjang atas nama kontrak maka kondisi Bolaang Mongondow akan senasib dengan Papua, ada perusahaan raksasa tapi daerahnya tidak berkembang alias nda maju-maju. Kekurangan air bersih diwilayah pemukiman warga pasti terjadi sebagai dampak dari aktivitas pengeboran bawah tanah dengan kandungan semen 60 %, sawah-sawah yang ada disekitar perusahaan pasti tidak produktif lagi, akhirnya yang tadinya air sangat mudah didapatkan akan menjadi sulit ditemukan, bahkan air akan lebih mahal daripada BBM. Sehingga muncul kesenjangan sosial antara pekerja perusahaan mayoritas asing dan pekerja lokal yang minoritas ditambah dengan pekerja asing yang tidak mengenal nilai-nilai kearifan lokal di wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong).

Upss..kopinya sisa ampas, tak sadar sedari tadi kuulang-ulang meminumnya,

Untuk yang terakhir karena kopinya sedikit lagi akan habis,,,kasus yang menimpa Bupati Bolaang Mongondow menurut saya merupakan kasus yang mengatasnmakan Masyarakat Bolaang Mongondow, bukan dengan alasan kepentingan Partai, Individu maupun kelompok tertentu yang ada di Bolaang Mongodow. Tetapi harus dilihat dari kaca mata Humanis bahwa perjuangan Bupati Wanita ini merupakan simbol perlawanan yang mewakili segenap Rakyat Bolaang Mongondow sebagai usaha untuk menentang korporasi dengan sengaja masuk tanpa meminta izin dan kita sebagai masyarakat Bolmong yang sebagian berbeda pendapat dan sikap terhadap persoalan ini, harus sadar bahwa kita sedang diadu oleh mereka sesama kita sebagai penduduk lokal. Mari lepaskan jubah perbedaan terkait persoalan Conch di Bolaang Mongondow untuk kepentingan masa depan generasi berikutnya ditanah leluhur para Bogani. Korporasi harus dilawan tanpa kompromi karena kita punya perusahaan-perusahaan  besar milik lokal seperti Bosowa, saya rasa pemerintah bisa menghadirkan mereka untuk berinfestasi di Bolmong apabila Conch angkat kaki di Bumi Totabuan.

Saya cukupkan tulisan ini karena kopi sudah habis baik yang digelas maupun dalam termos, saya akhiri dengan ungkapan dari tokoh Revolusi Islam Iran Ali Syariati, katanya “hewan kalau diganggu akan melawan, kalau kita manusia diganggu kemudian tidak melawan maka kita lebih hina dari hewan”

Penulis Adalah Manusia biasa yang tinggal di Kolong Langit Bumi Totabuan Bolaang Mongondow

Bolaang Mongondow Ada Conch, Akan Seperti Papua Ada Freeport

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Samsung Luncurkan Galaxy Note10 Lite

Infobmr.com, TEKNO – Samsung dikabarkan akan meluncurkan seri Galaxy Note ...