Amin Lasena-From Zero To Hero

Tak ada manusia yg dapat memilih dari siapa ia dilahirkan. Namun, manusia bisa beroda dan berikhtiar demi menggapai puncak keberhasilan.

Amin Lasena adalah di antara tokoh politik yang membuktikan capaian kesuksesan degan doa dan ikhtiar itu. Ia menggantungkan asa setinggi langit, lalu bekerja keras mendakinya setapak demi setapak hingga merengkuh titian harapan. Perjalanan hidupnya mewariskan pelajaran tentang kisah anak manusia yg dapat dijadikan representasi nyata untuk jargon “from zero to hero”.

56 tahun lalu, Amin Lasena terlahir ke dunia dari keluarga sederhana di tanah adat Boroko, Kecamatan Kadipang, Bolaang Mongondow Utara. Masa-masa kecilnya adalah putaran waktu yang dihabiskan untuk belajar dari lingkungan, orang tua dan guru-gurunya.

SD Negeri 1 Boroko adalah tempat pertama bagi Amin kecil berkenalan dgn pendidikan formal. Enam tahun sesudahnya, ia melanjutkan studi di SMP Negeri Boroko. Tamat sekolah menengah pertama, Amin remaja yang dahaga akan ilmu pengatahuan, merantau ke Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Tahun 1984, ia tamat dari SMA Negeri 3 Manado.

Kampus IKIP Negeri Manado, selanjutnya menjadi pilihan Amin untuk meneruskan ekspedisi pendidikan. Pada tahun 1989, suami Siti Safwania Djenaan ini berhasil tamat degan hasil yang sangat baik. Pendidikan magisternya kemudian digapai di Pascasarjana Universitas Negeri Manado (UNIMA) pada tahun 2007.

Dalam catatan perjalanan karir dan sekolahnya, Amin termasuk sosok yg dianugerahi kemampuan manajerial, mental, dan komunikasi yang bagus. Kecakapan bergaul juga membuatnya mudah akrab degan siapa pun. Kesempatan masa-masa sekolah, tak pernah disia-siakannya. Baginya, setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah.

Di tengah ketekunannya menimba ilmu, ayah tiga anak ini memiliki tradisi positif yang dikemudian hari menjadi modal terbesar yg melapangkan napas perjuangannya. Tradisi itu yakni perasaan berempati dan ketertarikannya dalam dunia organisasi. Lewat perpaduan ruang akademik dan organisasi, ia mengunyah pengalaman sebanyak mungkin degan satu harapan untuk hidup yg lebih berarti.

Sewaktu masih berseragam putih abu-abu, Amin menjadi pengurus OSIS dan pengurus Pelajar Islam Indonesia. Ketika duduk di bangku kuliah, ia menjabat ketua himpunan mahasiswa di jurusannya PLS dan masuk dalam struktur Badan Perwakilan Mahasiswa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNIMA. Soal hukum dan jurnalistik, pria kelahiran 13 April 1963 ini tidak ketinggalan karena pernah menempa diri dalam Yayasan Lembaga Hukum dan Pers Kampus. beliau juga sempat menjabat Ketua Komisariat HMI di Fakultas Ilmu Pendidikan Unsrat Manado.

Dalam ruang yang lebih luas, sosok Amin sangat lekat dgn aktivitas sosial-religius. Keseriusan dan kepeduliannya menyangkut kemaslahatan umat terbentang dalam eksistensinya di banyak organisasi/lembaga besar yang pernah dan sedang dijabatnya.

Di tingkat Sulut, Amin menjabat Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, Wakil Ketua Jaringan Kerja Kasih, Pengurus BPP-JSN 45, Anggota Majelis Pertimbangan Wilayah BKPRMI dan Anggota Majelis Pemuda Indonesia KNPI.

Selanjutnya, Ketua GP Ansor, Anggota Dewan Penasehat PW GP Ansor, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sekretaris Forum Komunikasi Antarumat Beragama dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Pasca Sarjana, UNIMA.

Pada level nasional, Amin menduduki anggota Dewan Penasehat Pimpinan Pusat GP Ansor. Sebelumnya, Amin adalah pelakon utama yang menggerakkan Kerukunan Keluarga Kaidipang-Bolangitang dgn jabatan sebagai sekretaris. Antara 2001-2005, ia aktif sebagai Wakil Ketua DPD I KNPI Sulut.

Di tengah aktivitas padat itu, Amin adalah sosok akademisi yang arif. Ia merupakan dosen aktif dgn jabatan fungsional Lektor di UNIMA. Amin mewarnai wajah putra Bolmut yang kiprahnya diakui di kancah Sulut hingga nasional.

Pengabdian panjangnya membuat dirinya memiliki banyak jaringan pertemanan dan simpatisan. Pada akhirnya, modal itulah yg mengencangkan tekadnya untuk masuk mengabdikan diri melalui jalur politik.

Pada tahun 2018, Amin menjemput nasib baik. Ketika ia maju calon Wakil Bupati Bolmut mendampingi Bupati Depri Pontoh, kemenangan segera bersambut. Duet Depri Pontoh-Amin Lasena sukses meraup suara terbanyak dari masyarakat Bolmut.

Bersamaan degan itu, kedekatan Amin dgn Gubernur Sulut Olly DondoKambey yang juga pengurus DPP PDIP memuluskannya mendapat posisi strategis sebagai komandan DPC PDIP Bolmut.

Di tangan Amin, suara PDIP Bolmut melonjak drastis. PDIP meraup kemenangan maksimal dan berhak atas posisi kursi Ketua DPRD Bolmut.

Sekarang, kemanakah perjalanan Amin berikutnya? Apakah bertahan sebagai Wakil Bupati Bolmut atau mencari peruntungan politik sebagai Calon Wakil Gubernur..?

Yang pasti, kisah hidup Amin teruntai pelajaran tentang ilmu, kerja keras dan pengalaman sebagai modal terbesar untuk kesuksesan. Setengah perjalanan hidupnya adalah cerminan nasehat bahwa tak ada usaha manusia yang sia-sia. YAKIN USAHA SAMPAI

Ditulis oleh : Andriy Adrianzah

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Samsung Luncurkan Galaxy Note10 Lite

Infobmr.com, TEKNO – Samsung dikabarkan akan meluncurkan seri Galaxy Note ...