Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) menenangkan Ibu korban (tengah) ketika prosesi penyerahan jenazah Hayati Lutfiah Hamid di RS Bhayangkara Polda Jatim. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Evakuasi AirAsia : Hujan Lebat Iringi Pemakaman Jenazah Hayati

(Info  BMR) Surabaya — Prosesi pemakaman Hayati Lutfiah Hamid, salah seorang korban AirAsia QZ8501 yang pertama kali berhasil teridentifikasi tim DVI Polda Jawa Timur, dilakukan di bawah guyuran hujan lebat. Hayati dimakamkan di sebuah pemakaman umum dekat kediamannya di Sidoarjo, jawa Timur, Kamis (1/1).
Seperti  yang  dilansir dari CNN Indonesia di lokasi pemakaman, turut memberikan penghormatan terakhir beberapa perwakilan dari manajemen AirAsia. Saat diserahkan oleh pihak AirAsia, jenazah Hayati yang biasa dipanggil Fifi oleh keluarga dan kerabatnya itu, tak sempat diturunkan dari ambulans dan disemayamkan di rumah duka. Rombongan pengantar jenazah, petang tadi, langsung mengarah pemakaman setempat yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kediamannya.

Sementara itu, puluhan orang yang merupakan keluarga dan rekan Fifi terlihat di sekitar rumah. Mereka juga menghadiri pemakaman Fifi yang berlangsung sekitar 30 menit.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sempat menenangkan ibu Fifi yang menangis saat penyerahan jenazah putrinya di Rumah Sakit Bhayangkara, Polda Jawa Timur. Pembacaan doa menandakan akhir prosesi pemakaman yang sederhana itu.
Nama Hayati tercatat sebagai salah satu penumpang pesawat AirAsia QZ8501 yang bertolak dari Surabaya menuju Singapura, Ahad pagi (28/12). Pesawat itu hilang kontak dan serpihannya ditemukan pada Selasa lalu di sekitar peraian Teluk Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dalam manifes penumpang, tercatat 155 orang turut dalam penerbangan yang lepas landas dari Bandar Udara Juanda pukul 05.35 WIB tersebut.

Proses identifikasi terhadap Hayati yang sebelumnya diberi label B0001 berlangsung sejak pukul 10.30 WIB hingga 13.00 WIB, Kamis (1/1). Menurut Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jatim Komisaris Besar Budiono, teridentifikasi dengan dua metode, yakni metode primer dan sekunder.
Melalui metode primer, Budiyono menjelaskan, tim menemukan kesamaan data antara ante mortem dan post mortem. Identifikasi dilakukan melalui sidik jari jenazah yang sesuai dengan sidik jari yang diperoleh tim ante mortem. Kemudian, tim juga menggunakan metode sekunder terdiri dari sejumlah spesialis forensik.
“Adanya tanda operasi sectio (operasi sesar) yang masih tampak. Informasi yang diperoleh ante mortem dari keluarga juga sama,” kata Budiyono.
Lebih lanjut, tim medis menemukan data yang memperkuat hasil identifikasi tersebut berupa properti di tubuh jasad beruap sebuah kartu identitas bertuliskan Hayati Lutfiah. Dalam identitas tersebut tertera alamat di Sidoarjo.
“Properti lain dari perhiasan kalung dengan inisial nama yang bersangkutan, gelang, dan lain-lain, yang diakui keluarga sebagai milik korban,” ujarnya.(rdk/sip/lin)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Ryze Tech Luncurkan Drone Seharga Satu Jutaan

Infobmr.com, TEKNO – Persaingan drone kini semakin ketat, startup asal ...