Gambar Ilustrasi

Bisa Menyebabkan Resistensi Insulin

Diet Terlalu Ketat

(Info BMR) JAKARTA – Ini tanda awas bagi yang melakukan diet atau yang ingin menurunkan berat badan. Seperti yang dilansir di detik health.com ternyata diet yang dilakukan harus diketahui batas jumlah kalori yang harus dikonsumsi. Karena berapa banyak yang masuk ke tubuh akan terlihat nyata pada tubuh Anda. Namun apakah benar diet ekstra ketat memberikan banyak manfaat dan tanpa efek samping?

Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Ohio State University mengungkapkan bahwa melewatkan atau menahan makan dan diet tak sehat tidak hanya menyebabkan berat badan yang kurang stabil tetapi juga bisa menyebabkan perkembangan resistensi insulin pada hati.

“Studi ini tidak mendukung gagasan bahwa konsumsi makanan dalam jumlah sedikit dapat membantu menurunkan berat badan. Makan berfungsi untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari. Dengan catatan, jika Anda banyak makan maka Anda harus banyak berolahraga. Begitupun sebaliknya, jika Anda hanya mengonsumsi sedikit makanan maka jangan memaksa diri sendiri untuk berdiet karena yang ditakutkan malah berdampak pada penyakit lain yang bisa saja muncul,” ucap Martha Belury, profesor nutrisi manusia di Ohio State University, dikutip dari Medical Daily, Sabtu (23/5/2015)

Belury dan tim penelitiannya menggunakan tikus laboratorium untuk mendalami kasus ini. Tikus dibagi mejadi dua kelompok, kelompok satu menjalani diet ketat (diet makan sehari sekali) dan kelompok kedua menjalani diet unlimited (diet makan dalam porsi kecil). Tikus kelompok pertama diberikan kalori tambahan setiap 3 hari sekali. Nah meskipun tikus pada kelompok die pertama telah merasakan pengurangan berat badan namun ketika diberikan kalori tambahan, tikus menjadi agresif dalam mengonsumsi kalori tersebut dan mengalami berat badan yang tak stabil.

Pada akhir penelitian, dua kelompok tikus tersebut memiliki berat badan yang hampir sama. Namun tikus pada kelompok pertama lebih mendapatkan perut yang buncit dan bergelambir dibandingkan kelompok kedua. Dicurigai, hal ini bisa dikaitkan dengan resistensi insulin dan risiko yang lebih tinggi untuk diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Belury menjelaskan bahwa manusia tidak boleh menahan-nahan nafsu makan selama 24 jam penuh. Tikus-tikus ini tidak menderita diabetes tipe 2, namun mereka tidak lagi bisa merespon insulin yang mengakibatkan resistensi insulin yang ditengarai adalah gejala diabetes pasca penelitian. Saat penelitian berlanjut, tikus dilatih untuk makan empat jam dan berpuasa selama 20 jam dalam sehari. Penurunan berat badan dan kebutuhan insulin memang menjadi plus minus dalam menurunkan berat badan yang bisa mengancam metabolisme tubuh.

Tikus kini dilatih untuk berpuasa dan mengontrol asupan gizi yang masuk. Jika Anda sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi, lemak akan sangat senang mendapatkan glukosa. Hal ini membuat lemak semakin bertumpuk dan menjadikan jaringan lemak yang buruk pada perut atau tubuh manusia lainnya,” pungkas Belury.

Sebuah studi serupa yang dilakukan di Oregon Research Institute (ORI) menemukan bahwa melewatkan makan atau membatasi jumlah kalori yang masuk itu sangat tidak sehat. Ketika remaja rela menahan kebiasaan makan mungkin penurunan berat badan akan terjadi namun tentu ada efek samping pada tubuh. Jadi tak ada masalahnya jika makan banyak asal bernutrisi dan mengandung serat tinggi.(detik health/iqb)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Update Corona di Indonesia 8 April 2020 : 2.956 Positif, 222 Sembuh, 240 Meninggal Dunia

Infobmr.com, JAKARTA – Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan ...