Sisa Peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda Masih Berdiri Kokoh di Kota Manado

Infobmr.com, MANADO  – Ketika Jepang mendarat di Manado pada 11 Januari 1942, kubu‑kubu pertahanan atau veldbox ini dengan mudah direbut.

Oleh Jepang kubu itu kemudian digunakan untuk menghadapi serangan sekutu dalam Perang Pasifik.

Selain tingginya tak sampai 2 meter, ada sebuah pintu kecil untuk masuk keluar, kemudian jendela kecil untuk mengeluarkan moncong senja membidik musuh.

Kaunang mengaku pernah mengukur keliling veldbox. Tebalnya 30 sampai 40 sentimeter.

Selain di Wanea, sejumlah Veldbox masih bertahan ada di Titiwungen, di sekitar bekas RS Gunung Wenang (sekarang hotel), di belakang kampus Fakultas Hukum, sekitar RS Rarumbuysang dan masih ada lagi tersebar di Manado.

“Dulu serangkaian dengan veldbox ada parit pertahanan juga sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya.

Manado Tempat Strategis

Saat bergolak perang di Asia Timur, Januari 1942, Jepang menjadikan sejumlah daerah sebagai daerah pertahanan. Kota Manado merupakan satu di antaranya.

Sebelum perang berkecamuk, Jepang sudah datang duluan di Manado. Mereka menyamar sebagai pengusaha maupun pedagang.

Para mata‑mata inilah yang jadi pembuka jalan bagi pasukan Jepang menguasai Manado.

“Manado termasuk gampang dikuasai,” ujarnya.

Jepang memilih Sulut karena kedudukan sangat strategis.

Dari Sulut bisa mengakses Filipina maupun ke Singapura.

Strategisnya lokasi Manado‑Minahasa pada masa Perang Pasifik, bahkan di awal Perang Dunia II, ketika serangan tentara Dai Nippon, maka wilayah Manado dan Minahasa menjadi penangkal atau penghambat agresi militer Jepang menuju benua Australia.

Secara posisi, Manado selama berabad‑abad lamanya bahkan sebelum zaman pelaut Spanyol datang sudah menjadi lokasi rendevouz.

“Artinya menjadi tempat pertemuan, tempat baku dapa bahasa Manado-nya,” ujar Kaunang.

Manado sudah menjadi daerah perlintasan dan pelayaran.

Pelaut menjadikan Manado tempat singgah mengambil air bersih dan persediaan.

“Banyak air bersih, ada Kuala Wenang, Likupang, Kema, dan Amurang,” ujarnya.

Selain itu menjadi tempat barter, para pedagang dari luar negeri kumpul di Manado

Strategisnya Manado membuat VOC atau badan dagang Belanda membangun benteng.

Manado menjadi titik jalur perdagangan rempah ke Maluku.

Saat berkecamuk perang Sekutu dan Jepang, Manado dilirik Jepang sebagai tempat yang harus dikuasai untuk memperkuat posisinya menghadapi sekutu.

Jepang masuk ke Manado, kemudian memaksa rakyat membangun kubu‑kubu pertahanan yang dinamakan veldbox.

Tempat Pertahanan Efektif

Pada masa perang, veldbox merupakan tempat pertahanan yang efektif bahkan menyusahkan pasukan sekutu.

Dengan segelintir tentara bisa menghalau banyak pasukan sekutu dari kubu petahanan ini.

Di Manado, veldbox dibangun di wilayah pesisir pantai, sungai, dan bukit.

“Veldbox dan senapan Tomson memang kombinasi menakutkan bagi pasukan lawan,” ungkapnya.

Ketika berperang dengan Jepang, sekutu menggunakan strategi dinamakan frog leaping atau lompatan katak.

Sekutu merebut satu per satu kubu pertahanan. Satu di antaranya Manado.

Kaunang mengatakan, ia punya saksi mata hidup yang berkisah kala perang sekutu dan Jepang berkecamuk di Manado.

September 1945 sekutu membom Manado.

Daerah yang kini jadi ibu kota Provinsi Sulut itu porak poranda.

Seorang ibu kenalannya di Tikala menggambarkan hancurnya Manado ketika itu.

“Jadi, dari rumah di Tikala kelihatan Pantai Manado. Tak ada lagi penghalang pandangan mata, ini gambaran hancurnya Manado seperti itu,” kata Kaunang.

Jepang tak bisa bertahan, akhirnya menyerah kalah.

Apalagi kala itu dua kota utama mereka Hirosima dan Nagasaki dibom. [riyonoor]

Sumber : Tribunnews.com

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Cara Menghapus Pesan WhatsApp Yang Salah Kirim

Infobmr.com, TEKNOLOGI – WhatsApp akhirnya merilis fitur yang sudah dinantikan banyak penggunananya. Fitur ini memungkinkan ...