Sehan Adalah Nama Lain Bagi “Kebenaran” Yasti

Oleh : Amato Assagaf

Catatan di bagian atas

Gagasan bagi tulisan ini muncul tak lama setelah usainya pilkada di Bolaang Mongondow Induk yang mengantar Yasti sebagai bupati terpilih. Saya tidak berminat pada pilkada itu dalam arti sempitnya sebagai pertarungan politik antara dua pasangan calon tapi pada apa yang telah mendahuluinya dan yang kelak melanjutkannya. Yaitu pada apa yang membangkitkan minat saya saat ini tentang Bolaang Mongondow Raya: politik dan intelektualitas.

Tulisan ini mengambil fokus pada pertarungan unik antara dua kelompok besar yang paling menyita perhatian publik Bolmong Raya. Tapi meskipun harus saya tuliskan secara cukup panjang lebar, pertarungan itu sendiri lebih saya maksudkan sebagai latar bagi apa yang sesungguhnya ingin saya sampaikan. Yaitu seruan pada satu kelompok dalam masyarakat Bolmong Raya yang saya percaya sedang bangkit. Pada mereka, saya yakin, seruan ini akan terdengar.

Dua jenis “kebenaran”

Sehan Landjar hadir di ruang publik lewat jabatannya sebagai bupati Bolaang Mongondow Timur pada pemilihan bupati pertama sekira dua tahun setelah kawasan itu dimekarkan pada akhir tahun 2008. Setelah itu, Sehan menjelma menjadi tokoh politik yang sangat berpengaruh di kawasan Bolaang Mongondow Raya.

Dalam beberapa hal yang kiranya bisa dipertanggungjawabkan, saya mengklaim bahwa Sehan adalah politisi yang paling menonjol di kawasan ini selain Yasti Supredjo Mokoagow, mantan anggota DPR RI yang barusan terpilih sebagai bupati Bolaang Mongondow Induk. Dan, seperti juga Yasti, popularitas itu tidak dia peroleh dari luar “kebenaran” politik yang dia tindaki.

Kisah “kebenaran” mereka dimulai pada pemilihan bupati Boltim yang kedua, saat Sehan muncul sebagai calon petahana. Di arena itu, kedua nama besar ini mencoba mencatat “kebenaran” mereka masing-masing. Kita tahu, pada saat itu, Boltim menjadi panggung bagi Sehan. Yasti hanya nama di belakang pasangan calon bupati dan wakil bupati yang, secara politis, tampaknya terlalu tak setara dengan Sehan. Dan itu menggerus “kebenaran” politik Yasti.

Ketika panggung pertarungan dipindahkan ke Bolaang Mongondow Induk, saat Yasti tampil sebagai penantang petahana yang “didukung” Sehan dengan logika politik yang terlalu elitis. Kita tahu, Sehan pada akhirnya harus merelakan “kebenaran” politiknya yang terpuruk. Dia bukan hanya kalah dengan kekalahan petahana yang dia “dukung” tapi “kebenaran” yang dia bawa juga ikut terpendam.

Setelah itu, panggung bagi keduanya dibongkar dan disimpan untuk dipersiapkan nanti di Kotamobagu dan, bisa jadi juga, Bolaang Mongondow Utara. Dalam selang waktu antara panggung terakhir dan yang nanti kembali dibangun, ada sebuah kekuatiran bahwa Sehan dan Yasti sedang menukar “kebenaran” mereka. Atau, bisa jadi pula, sedang mempertukarkan “kebenaran” masing-masing.

Apa yang dimaksud dengan “kebenaran” di sini? Pertama, dalam hubungan dengan Sehan dan Yasti, “kebenaran” yang dimaksud adalah “kebenaran” politik dalam arti sempitnya yang berkisar pada ide tentang kekuasaan. Kedua, kata kebenaran harus selalu diberikan tanda kutip untuk menghindari pengertian kata ini yang lebih luas dan bisa dibilang baku. Dalam tanda kutip ini, “kebenaran” dimaksudkan sebagai “pokok ideologis yang mewarnai tujuan dan cara sang politisi dalam memaknai kekuasaan” sekaligus sebagai pembeda dari apa yang bisa kita refleksikan mengenai kebenaran sebagai gagasan reflektif di hadapan kekuasaan.

Kita tahu bahwa ada anggapan yang sudah menjadi umum, tidak di kalangan akademis maupun masyarakat umum, bahwa kekuasaan selalu merupakan tujuan dari sebuah aksi politik. Tapi, dalam tulisan ini, kekuasaan ingin diartikan bukan sebagai pokok dari pemaknaan atas tindakan dan wacana politik itu sendiri melainkan hanya sebagai, meminjam Claude Lefort, kursi kosong kedaulatan. Dengan cara ini, kita bisa membebaskan wacana pembahasan politik dari dua model pembahasaan yang telah menjadi jargon, yakni pembahasaan akademis yang dibentuk oleh ilmu politik formal dan pembahasaan publik yang sering diandaikan dalam media-media massa.

Dalam upaya pembebasan ini, tulisan yang sulit untuk menjadi ringkas ini ingin membicarakan politik dengan menggunakan apa yang suka saya sebut sebagai imajinasi filosofis. Sebentuk spekulasi imajinatif yang meminjam refleksi dari laci filsafat politik. Dalam model pembahasan ini, “kebenaran” dalam tanda kutip itu dilihat sebagai kerangka pemaknaan bagi “cara” dalam mengejar “tujuan” yang adalah kekuasaan politis sekaligus makna bagi “tujuan” berdasarkan “cara” yang dipilih.

Karenanya, kita akan membicarakan Sehan dan Yasti dengan mengerangkakan apa yang menjadi “kebenaran” mereka masing-masing. Tapi satu hal yang harus dikemukakan sejak awal adalah bahwa Sehan dan Yasti tidak muncul sebagai pemeran utama dalam gerak politik di kawasan dengan potensi kekuatan sosio-ekonomi dan sosio-kultural dahsyat bernama Bolaang Mongondow Raya ini jika mereka bukan merupakan semacam representasi dari birahi politik masyarakat Bolaang Mongondow sendiri. Bahkan sesungguhnya, keduanya berada pada titik ekstrim dari birahi itu.

Pada titik ekstrim pertama, mewujud sebagai “kebenaran” Sehan, adalah apa yang saya namakan sebagai birahi populistik. Dalam banyak tulisan saya soal Sehan, saya selalu menampilkan sang politisi Boltim sebagai representasi keagenan dari populisme dalam politik. Ketika populisme menjadi bahasa pencitraan Jokowi yang bersanding cantik dengan gaya kepemimpinan populis Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti, banyak kawan yang menunjuk Sehan Landjar sebagai model mereka di Sulawesi Utara.

Dalam model “kebenaran” ini, daya tarik yang ditujukan pada massa merupakan bunga dalam rangkaian metodologis mereka untuk meraih kekuasaan dan mempergunakannya. Problem bahwa cara ini sering tak sepadan dengan hasil yang dijanjikannya tampaknya tidak pernah menjadi persoalan benar. Meski demikian, gaya kepemimpinan politik populis jelas memiliki daya tariktersendiri bagi masyarakat.

Sehan mewakili “kebenaran” ini dengan cara yang nyaris sempurna. Pertama, dia adalah seorang orator ulung; populisme memperoleh ruang bagi “kebenaran” yang diusungnya dari atas mimbar rakyat banyak dalam kecanggihan membahasakan hasrat. Atau, sebaliknya, dan ini yang kedua, Sehan memiliki karakter (yang saya kira alami) untuk menjumbuhkan dirinya di antara orang banyak. Di warung kopi bersama wartawan, di pasar bersama pedagang, bahkan di pinggir pantai sambil menyanyikan lagu-lagu yang paling populer.

Ketiga, Sehan dikenal sebagai figur yang memiliki kemampuan “matematika” politik yang terbilang canggih. Dia tidak hanya mengerti menambah, mengurangi, dan mengalikan tapi juga, dan ini sangat populistis, membagi. Selama masa yang terbilang singkat sebagai staf sang bupati, saya sering menyaksikan Sehan merogoh kantong untuk membiayai satu per satu individu dan keluarganya hingga untuk urusan yang sangat “remeh” seperti, misalnya, memperbaiki atap dapur mereka. Sedemikian sehingga dia bisa dengan mudah memperoleh corong bagi citranya sebagai, katakanlah, semacam Robinhood.

Keempat, dan ini sering dianggap sebagai bahaya populisme, Sehan lebih berkepentingan dengan emosi massa daripada membina akal sehat mereka dalam berbagai kebijakannya. Beberapa kebijakan itu kebetulan berguna, yang lain tidak pernah jelas ujung pangkalnya. Tapi, kita tahu, massa dalam emosi tidak akan pernah mempermasalahkan itu.

Lalu Yasti, tipe politisi yang lahir dari ruang mewah hotel dan kantor partai. Sang politisi muncul sebagai “putri kesayangan” para tokoh nasional dan memperoleh posisinya di panggung politik Bolmong Raya lewat model akal-instrumental dari proses politik demokratis. Yasti adalah titik ekstrim dari birahi politik sekelompok masyarakat akan elitisme. Dalam model birahi ini ada anggapan yang bertahan bahwa mereka yang ada di atas adalah orang-orang yang paling tahu cara mengelola kepentingan masyarakat.

Meskipun populisme sedang merajalela saat ini, gaya kepemimpin elitis tidak langsung kehilangan pesonanya. Kita tahu, masyarakat Indonesia saat ini masih meragukan adanya pencairan batas antara “yang-di-atas” dengan “yang-di-bawah.” Bahasa warung kopi seperti misalnya, “mereka yang paling tahu soal itu” atau “siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan, dia yang paling layak” adalah kode-kode ideologis dari model elitisme.

Yasti mewakili elitisme dalam seluruh biografi politiknya. Dan lengkap bersama biografi itu, aura magis ketaktersentuhan yang teriluminasi dari pendekatan politiknya. Pertama, nyaris menjadi mitos bahwa Yasti adalah politisi dengan kantong ajaib penuh uang. Dan di masa ketika alat tukar ini menjadi sihir politik, citra sebagai politisi berduit adalah sebuah kekuatan. Saya tidak sedang mengarahkan pembicaraan pada stigmatisasi politik uang yang lekat dengan kelompok Yasti, itu adalah konklusia priori yang belum tentu benar secara empiris. Saya sedang bicara tentang logika lancung di kalangan orang banyak bahwa politik membutuhkan biaya yang selalu bermakna ekonomis.

Kedua, Yasti sangat identik dengan klik dan klub, kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang bersifat eksklusif, terbatas, dan datang dari kelas yang nyaris sepenuhnya berumah di atas angin. Pembicaraan tentang Yasti, dan ini tidak harus dinilai negatif, adalah pembicaraan tentang para politisi mapan dan/atau pengusaha besar, bukan nelayan atau petani.

Ketiga, dan ini mungkin sangat positif, bahkan dalam kampanye pemilihan bupati yang sangat membutuhkan eksploitasi massa, Yasti dan kelompoknya hadir secara formal bagi masyarakat Bolmong Induk dengan menukik langsung pada kepentingan mereka yang paling bersifat teknis, praktis dan pragmatis. Saya tidak percaya bahwa jargon, seperti juga citra, memainkan peran dalam kampanye Yasti. Gambaran tentang “saya sebagai yang paling tahu masalah masyarakat” barangkali sudah cukup bagi Yasti dan “kebenaran” elitisnya.

Keempat, konsisten dengan citra kantong uang ajaib, klik dan klub serta model akal-instrumentalistik, Yasti hadir dalam aura “sang ketua” dengan “tawaran yang tidak bisa ditolak” oleh siapapun yang hendak ikut bermain di arena politik Bolmong Raya. Dan lewat “tawaran” itu, lewat hubungan positif dan negatifnya dengan para elit politik Bolmong Raya, Yasti membangun citranya sebagai politisi penting di kawasan itu. Dengan cara ini, Yasti tampak tidak berkepentingan dengan dramatisasi “kehendak publik” jika tidak bisa dibilang memiliki jarak magis dengan masyarakat banyak. Dia menarik dukungan masyarakat atas dirinya lewat hubungannya dengan para elit politik itu.

“Kebenaran” bukan kebenaran

Lewat paparan di atas kita memperoleh kontras “kebenaran” antara Sehan dan Yasti dalam cara bagaimana mereka memaknai kekuasaan dan posisi mereka atas hal itu. Tapi apa yang penting untuk dicermati, tidak ada hitam dan putih dalam kedua “kebenaran” itu. Kebaikan dari kedua bentuk “kebenaran” ini tidak terletak dalam pertimbangan-pertimbangan teknis kalkulatif atas hasil dari praktek “kebenaran” itu dalam kerja-kerja mereka baik sebagai bupati maupun wakil rakyat di tingkat nasional. Bukti bagi kebaikan keduanya semata ada dalam kerja-kerja politik keduanya untuk mempertahankan posisi mereka dalam imajinasi berkekuasaan masyarakat banyak.

“Kebenaran” mereka adalah jenis ontologis dari politik sebagai wacana metafisis. Kita mengandaikan serangkaian atribut ontologis bagi politik seperti kekuasaan, keadilan, kesejahteraan, dan yang sejenisnya, lalu menempatkan mereka dalam bungkus kebenaran yang mengubah semua atribut itu menjadi sebentuk ideologi. Tentunya, “kebenaran” sebagai bingkai ideologis Sehan dan Yasti tidak bisa direduksi dalam satu atau dua jenis ideologi formal yang bisa kita pelajari dari buku-buku filsafat atau ilmu politik.

Menggunakan model analisa filsafat politik pasca-fondasionalisme misalnya, akan memaksa kita untuk menempatkan kedua “kebenaran” itu dalam kerangka politik sebagai la politique atawa politik sebagaimana yang dipahami dalam praktek kita saat ini. Sebentuk politik yang mudah jika tidak bisa dibilang senantiasa terjerembab dalam selokan kalkulasi dagang sapi. Ini untuk membedakannya dari le politique atawa yang-politik sebagai dimensi politik yang membawa apa yang kita sebut sebagai kebenaran politik.

Sederhananya, “kebenaran” Sehan dan Yasti tetap saja adalah bentuk dari kebenaran yang berorbit pada pragmatisme bahkan oportunisme politik. Misalnya, model populisme Sehan adalah populisme yang kekentalannya tidak ditentukan oleh gagasan-gagasan yang bersifat ideologis tapi lebih oleh kepentingan jangka pendek Sehan dan gerbongnya.

Begitu juga dengan model elitisme Yasti yang tidak pernah lebih dari pilihan teknis-kalkulatif dalam meraih kekuasaan dan menggunakannya bagi kepentingan kelompok yang paling menguntungkan jaringan elit mereka sendiri. Elitisme politis tidak mengajarkan kita apapun kecuali birahi untuk berada dalam lingkaran itu. Mimpi yang menjebak banyak politisi kita untuk “bermain di atas” tanpa harus peduli pada apa yang mereka sebut sebagai “omong kosong kebenaran politik.”

Yang menarik, dan ini penting bagi seruan saya, baik “kebenaran” populis Sehan maupun “kebenaran” elitis Yasti memiliki satu musuh bersama, intelektualisme. Kedua “kebenaran” itu bersifat negatif terhadap kehendak akan gagasan yang bersifat abstrak dan reflektif serta bertumpu pada keketatan pikiran. Kritisisme dan kegetolan akan pertimbangan yang lebih menyeluruh dianggap sebagai gangguan di satu pihak dan ketidakcekatan di sisi lainnya.

Kedua kubu akan cenderung membantah tuduhan ini dengan mengemukakan kedekatan mereka dengan para pakar. Tapi, kita tahu, “pakarisme” adalah salah satu sebab dari sikap anti-intelektualisme yang meradang garang dalam kedua kubu “kebenaran” ini sekalian bersama para pendukungnya. Pakarisme adalah jenis baru kehidupan pengetahuan instan, teknis, dan kalkulatif, yang muncul dari dua sumber berbeda namun terkait.

Pertama, akademisme yang menenggelamkan segala bentuk pemikiran ke dalam episteme pengetahuan akademis. Pada titik positifnya, akademisme mengajukan keketatan berpikir. Pada titik negatifnya, akademisme menipu kita dengan rentetan gelar dan teknikalisasi pengetahuan.

Sumber kedua pakarisme adalah popularisme yang dipicu oleh media massa. Kepakaran ditentukan oleh popularitas dan, sialnya, kebenaran kemudian diproses juga dengan cara yang sama: gagasan yang paling benar adalah gagasan yang paling populer atau, setidaknya, yang digaungkan oleh pakar yang paling populer.

Akademisme dan media massa berkait dalam menyebarkan model popularisme ini. Akademisme memasok media massa dengan para pakar. Sekalian bersama figur-figur itu adalah bingkai episteme pengetahuan teknis-fungsional dan, tentu saja, gelar mentereng. Media massa, kemudian, menjadikan para pakar itu popularitas dan derajat selebritas.

Di dalam kubu “kebenaran” populis pakarisme menawarkan “pengetahuan praktis dan berguna.” Pada kubu “kebenaran” elitis, pakarisme memberikan “pembenaran teknis.” Persoalannya kemudian tidak terletak pada para pakar itu dan kedekatan mereka dengan kedua kubu, tapi pada bagaimana kebenaran politik diolah dalam kedua kubu “kebenaran” itu dan hasilnya bagi masyarakat.

Kedua kubu sama-sama menghendaki apa yang disebut sebagai “solusi praktis” yang bisa mereka temukan lewat model pakarisme yang akan memberi mereka pengetahuan instan, sejenis googleisme, yang bisa dihapal oleh siapa saja tanpa harus direnungkan. Atau, mereka akan bersembunyi dalam obskurantisme akademis yang berbentuk data dan informasi statistik, termasuk apa yang mereka sebut sebagai hasil riset dan survey. Teknikalisasi pengetahuan yang menyingkirkan ide-ide reflektif dari pembicaraan politik.

Baik Sehan maupun Yasti, berangkat dari “kebenaran” mereka masing-masing, lebih suka bicara tentang, misalnya, hasil praktis survey terkini daripada tentang, katakanlah, ide-ide abstrak dan reflektif seperti keadilan, kebebasan, dan seterusnya dan seterusnya. Maka berhadapan dengan kebenaran politik yang harus diandaikan berada dalam pertarungan gagasan sehingga menjadi sangat intelektual, “kebenaran” kedua kubu ini, suka atau tidak, harus selalu diletakkan di antara tanda kutip.

Entah dengan Yasti, tapi saya pernah menemukan Sehan, sekali dalam persahabatan saya dengannya, sebagai politisi yang mencoba membuka lahan bagi intelektualisme. Akan tetapi, ramuan kekentalan jabatan sebagai bupati, semangat zaman yang menjauh dari intelektualitas, dan kebutuhan akan “solusi praktis”, Sehan akhirnya menutup sendiri lahan itu.

Dan ketika itu dia lakukan, “kebenaran” Sehan menjadi tak lagi berbeda secara substansial dengan “kebenaran” Yasti. Bahkan, ketika mereka bertarung untuk yang kedua kalinya di Bolmong Induk, di mana “kebenaran” populis Sehan diperdamaikan dengan cara yang sangat janggal dengan calon yang didukungnya yang sama sekali tidak populis, saya menemukan gagasan mengejutkan bahwa Sehan, sesungguhnya, hanyalah nama lain bagi “kebenaran” Yasti.

Seruan saya

Kini Bolmong Raya sedang berada dalam masa antara menuju pertarungan berikut di Kotamobagu dan Bolmong Utara. Saya tidak ingin menduga apapun mengenai panggung yang nantinya didirikan bagi kedua perhelatan demokrasi itu. Tapi ketika ada informasi bahwa kedua kubu yang perseteruannya paling menonjol ini sedang membuka kemungkinan untuk melakukan kompromi, saya tidak terlalu terkejut.

Kenapa? Entah informasi itu benar atau tidak, kita harus mengerti bahwa sejauh apapun perbedaan metodologis keduanya dalam memaknai tujuan politik mereka masing-masing, keduanya bisa diandaikan sebagai dua sisi dari satu mata uang yang sama. Mata uang yang seharusnya menyadarkan kita bahwa keduanya berbeda hanya dalam hal yang paling permukaan dari sebuah pertarungan politik, pragmatika merebut kekuasaan.

Tulisan ini menjadi sulit untuk disingkat manakala apa yang ingin disampaikannya adalah sebuah seruan agar kita, terutama kawan-kawan saya di Bolmong Raya, mau mempergunakan masa antara menuju perhelatan demokrasi di dua daerah nanti sebagai masa untuk menghidupkan kembali intelektualisme dalam politik. Yakni menghidupkan kembali pembicaraan mengenai hal-hal yang paling mendasar yang seharusnya menjadi tuntutan kita atas para politisi.

Mengaji, membahas, dan membicarakan segala sesuatunya dengan cara yang paling klasik dari tuntutan agar kita memanfaatkan pemberian alam yang paling berharga bagi kita sebagai manusia, pikiran. Yang saya maksudkan dengan pikiran di sini adalah kualitas kemanusiaan yang dalam arti ketatnya berarti pikiran rasional. Heidegger sekali pernah mengatakan, “Kita menjalani hidup karena kita hidup. Dan kita berpikir karena kita adalah mahluk yang berpikir.”

Maka ketika kita tidak lagi menggunakan pikiran, ketika kita membiarkan segala peristiwa terjadi jauh dari kehendak kita untuk memikirkannya secara rasional lewat berbagai konsep dan gagasan, ketika kita justru meremehkan pikiran abstrak, reflektif dan ketat atas nama “solusi praktis” dan pengetahuan instan dari para pakar dan googleisme, maka itu artinya kita sedang menjauh dari hakikat kita sebagai manusia. Lebih buruk lagi, kita sedang menukar kebenaran dari masa depan Bolaang Mongondow Raya dengan “kebenaran” dari kepentingan kita hari ini.

Catatan di bagian bawah

Saya menujukan seruan ini bagi para vanguard intelektual Bolaang Mongondow Raya yang saya percaya sedang tumbuh sebagai satu kelompok di berbagai kawasan di daerah ini. Mereka bukan aktivis jika dengan istilah itu dimaksudkan jargon “talk less do more” yang artinya berbuat, berbuat, dan hanya berbuat, biarkan orang lain yang memikirkannya. Mereka juga bukan politisi jika dengan istilah itu dimaksudkan bertindak dengan kebenaran dalam tanda kutip bagi birahi. Mereka tidak populis karena mereka hanya segelintir orang dengan ciri eksklusif pengetahuan dan pikiran reflektif mereka. Tapi mereka juga tidak elitis karena mereka lahir dari rahim rakyat mereka sendiri dan selalu berada bersama bunda-bunda mereka itu juga.

Mereka adalah kelompok-kelompok dalam masyarakat yang betah dengan diskusi dan pertukaran pikiran, yang memberi waktu bagi diri mereka sendiri untuk membaca buku bukan status facebook, dan berani mengekspresikan gagasan-gagasan mereka dalam tulisan, pembicaraan, karya seni, bahkan tindakan politik yang unik dan kreatif. Mereka adalah para intelektual yang di hari-hari terakhir ini sedang diremehkan dan ditinggalkan.

Manado, Mei 2017

Amato

Samato-assagafN ADALAH NAMA LAIN BAGI “KEBENARAN” YASTI

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Ryze Tech Luncurkan Drone Seharga Satu Jutaan

Infobmr.com, TEKNO – Persaingan drone kini semakin ketat, startup asal ...