Ilustrasi

Kepsek SMK Kaidipang Dikecam

(info BMR) BOROKO—Sedih dan kusut. Begitulah mimik puluhan siswa Kelas XII Akuntasi SMK Negeri 1 Kaidipang, Kamis 21 November 2014 yang duduk dipinggir pagar. Para siswa itu, merenungi nasib mereka yang diusir mentah-mentah oleh Kepala Sekolah Awaluddin Korompot S.Pd. Mereka tak menyangka, usai apel pagi. Sang Pendidik itu tanpa basa basi mengusir. “pulang, pulang,” begitu Awal meneriaki siswa yang seharusnya dibina itu.

Sontak saja, siswa itu terpaksa lari ketakutan. Lantaran sikap Kepsek yang begitu arogan. Mirip militer saja. Beberapa siswa yang ditemui mengakui tak tahu menahu mengapa mereka diusir. Padahal mereka itu siap melaksanakan pelajaran Penjas. Kepada wartawan, Awal, sapaan sang Kepsek menyebutkan bahwa siswa itu tidak memakai baju batik. “Siswa saya pulangkan, karena mereka datang hanya menggunakan baju olah raga dan tidak memakai batik sebab sekolah ini kami mau jadikan sekolah rujukan,”kelit Kepsek yang baru berusia 10 bulan itu.

“Mo pakai baju batik apa ? ini kan hari Jumat, apalagi kami pelajaran Penjas,” ketus sejumlah Siswa yang meminta identitasnya tak dimediakan.

Beberapa Korps Umar Bakri di SMK Kaidipang membenarkan kalau siswa itu akan melakukan pelajaran Penjas. Dan untuk penggunaan baju batik itu hari lain. “Untuk baju batik itu hari Kamis. Kalau pun ada perubahan hari dalam pemakaian seragam. Mestinya Kepsek harus menyosialisasikan ke Dewan Guru, Komite dan Siswa, ”kata seorang Guru.

Aksi pengusiran siswa oleh Kepsek Awaluddin. Tak pelak membuat sejumlah orangtua siswa mengecam. Tindakan Awal terkesan arogan. Bukan sikap seorang pendidik. “kalau diusir anak-anak tidak bisa belajar. Kan bisa dibina di sekolah. Sehingga mereka tetap belajar. Kalau seharian tidak belajar, mereka bisa rugi. Kepala sekolah harus intropeksi diri-lah,”imbau beberapa orang tua siswa.

Sementara itu, pemerhati pendidikan Fadel Alfari menyatakan bahwa sebenarnya kepala sekolah tidak bisa mengusir siswa begitu saja. Apalagi hanya karena tidak menggunakan seragam batik. “Saya rasa masih ada cara-cara lain yang bisa membuat efek jera pada siswa yang tidak memakai batik tanpa harus dipulangkan,”tutur Alfari. Kandidat Strata 1 UDK itu menambahkan dengan memulangkan siswa dan tidak mengikut sertakan dalam kegiatan belajar itu sudah melanggar hak sebagai warga negara karena setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran.(tr-02)

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Cara Menghapus Pesan WhatsApp Yang Salah Kirim

Infobmr.com, TEKNOLOGI – WhatsApp akhirnya merilis fitur yang sudah dinantikan banyak penggunananya. Fitur ini memungkinkan ...