Ramdan Buhang

JANGAN BIARKAN RAKYAT MENJADI TUMBAL

Oleh : Ramdan Buhang

Sidang paripurna pembahasan Akalat Kelengkapan Dewan (AKD) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sudah usai yang menghasilkan komposisi 6, 5, 6 di masing masing Komisi. Namun prodak paripurna tersebut menimbulkan dinamika yang berkepanjangan di tubuh lembaga terhormat itu.

Rasa ketidak puasan dengan sikap yang kurang akomodatif pimpinan dalam merespon masukan serta saran-saran yang ditawarkan oleh peserta sidang menjadi pemicu perpecahan, hingga terbentuknya satu komisi yang belum pernah ada dalam daftar Komisi DPR di negara ini.

Komisi Kebenaran dan Orang hilang itulah namanya, digagas oleh koalisi Fraksi Perjuangan Bangsa dan Fraksi Partai Demokrat sehingga menimbulkan ketidak jelasan dalam realisasi kerja para pemegang mandat rakyat tersebut. Padahal harapan rakyat setelah mereka memberikan mandat politik, bagimana kemudian para legislator dapat bekerja maksimal untuk mengurisi rakyat, melahirkan aturan-aturan yang berpihak pada wong cilik, bukan saling bersikukuh dan mempertahankan ke egoisan untuk memenuhi sahwat politik.

Miris memang jika kita melihat opera yang dipertontonkan oleh para wakil rakyat itu ditengah krisis ekonomi yang tengah melanda Kabupaten ini. Hampir tidak dirasakan “*sense of urgency*” terhadap masalah-masalah yang ada. Para legislator hasil pemilu 2014 harusnya sanggup membawa angin segar dan melakukan perubahan berupa banting setir untuk dapat memperhatikan program-program yang benar-benar menyentuh kepentingan rakyat. “kalu dorang bakalae trus bagini..?, kapan kira-kira dorang mo urus rakyat, padahal torang so berdara-dara iko deng dorang di kampanye” pertanyan itu disampaikan oleh salah seorang sahabat saya saat diskusi di ruangan Sekretariat UDK Kampus Boroko.

Bila kita renungkan, rakyat dibawah yang ikut dalam gagap gempita kampanye itu, selain terbius oleh masa kampanye, jauh didalam hati mereka terdapat sebuah keinginan untuk dapat melihat perbaikan kehidupan mereka. Keberingasan yang dinampakkan dipermukaan adalah manifestasi protes mereka terhadap keadaan. Masa kampanye dianggap sebagai saat yang tepat untuk menggelar protes terhadap kekurang adilan atau ketidak adilan yang mereka rasakan.

Terkadang saya merasa kasihan kepada para peserta kampanye yang begitu bersemangat dan telah mengambil resiko serta sedikit banyak telah berkorban untuk Caleg mereka masing-masing. Saya kasihan karena seolah-olah mereka hanya menjadi alat huru-hara dalam “pesta demokrasi” kita. Kalau boleh saya katakan mereka hanya menjadi alat politik belaka. Namun kenyataan ini mungkin memang sulit di hindari, karena ini merupakan bagian dari proses dalam belajar berdemokrasi. Hanya saja satu hal yang penting harus di ingat oleh para anggota legislative kita bahwa rakyat yang telah bersusah payah memeriahkan pesta demokrasi itu, sesungguhnya menitipkan amanat tunggal : tegakkan kebenaran dan keadilan, perbaiki kehidupan mereka.

Para Anggota DPR harusnya menyadari bahwa merka berada di gedung terhormat itu, tidak hanya senang menerima gaji dan jalan-jalan keluar daerah atau sekedar melakukan pencitraan belaka. Namun hal yang perlu dilakukan untuk saat ini adalah segera membahas  KUA/PPAS dan APBD 2015. Jangan biarkan Rakyat Menjadi Tumbal akibat Ke-Egoisan dan Libido Politik semata.**

Satu Komentar

  1. Rakyat Tidak Pernah tahu situasi yang sedang terjadi. Penomena yang terjadi di DPRD Bolmut itu hanya bagian dari tampias gejolak Nasional. Menjadi Politisi atau anggota DPRD seharusnya punya dua sikap dan tujuan yakni memadukan antara eksitensi dan Kemaslahatan, situasi yang terjadi di DPRD Bolmut saat ini adalah soal menunjukan eksistensi Masing2 anggota dan itu wajar dalam politik tpi ingat bahwa tanpa harus mengesampingkan kemaslahatan rakyat, politisi dan juga parpol harus mampu memposisikan dirinya pada situasi seperti apa menunjukan eksistensinya dan kemaslahatannya, dan jarang kita menemukan Politisi yang mampu memadukan dua hal tersebut. Nah, rakyat melihat situasi ini mereka berbeda tingkat penilaiannya. Kalau saya melihat situasi perseteruan Saat ini di DPRD Bolmut yang dilakoni oleh DPRD Bolmut ada dua hal :
    Pertama, Ada sengkuni yang memanfaatkan gejolak ini sebagai keuntungan si sengkuni tersebut baik keuntungan posisi politik sang sengkuni, dan keuntungan posisi tawar, tanpa di sadari oleh masing2 kelompok yang sedang berseteru. Kedua, Soal menunjukan Eksistensi Masing2 Anggota DPRD dan menurut saya wajar hal tersebut meskipun belum menunjuka tanda2 kearah yang memberikan kemaslahatan rakyat.

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*

x

Berita Lainnya

Cara Menghapus Pesan WhatsApp Yang Salah Kirim

Infobmr.com, TEKNOLOGI – WhatsApp akhirnya merilis fitur yang sudah dinantikan banyak penggunananya. Fitur ini memungkinkan ...